Di setiap rumah, ada sosok yang mungkin tidak banyak bicara, namun langkahnya selalu menjadi arah. Ia bukan sekadar pencari nafkah, tetapi penentu arah bahtera keluarga. Ia adalah ayah — pemimpin dalam sunyi, yang tak selalu di depan, tapi selalu ada ketika dibutuhkan.
Dalam pandangan Islam, kepemimpinan seorang ayah bukanlah tentang kekuasaan, melainkan tanggung jawab. Rasulullah ï·º bersabda,
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ayah adalah nahkoda dalam perjalanan rumah tangga. Ia menentukan haluan, menjaga agar bahtera tak karam diterpa ombak kehidupan. Namun, kepemimpinan itu bukan dengan suara yang meninggi, melainkan dengan kebijaksanaan. Ia menuntun, bukan memaksa. Ia mendengar, bukan sekadar memerintah.
Di balik keputusannya yang tampak tegas, sering tersimpan doa panjang yang tak pernah diceritakannya pada siapa pun. Disetiap menatap kepergian anaknya, setiap itu pula terlantun doa.
Seorang ayah mungkin tak banyak menasihati dengan kata-kata, tapi hidupnya sendiri adalah pelajaran. Cara ia memperlakukan keluarga, cara ia menyikapi kesulitan, hingga caranya bersyukur dalam kesederhanaan — semua menjadi cermin bagi anak-anaknya.
Islam mengajarkan, keteladanan adalah kunci dakwah paling kuat. Seorang anak belajar shalat bukan dari ceramah panjang, tapi dari punggung ayah yang dilihatnya rukuk dan sujud dengan khusyuk. Ia belajar sabar bukan dari nasihat, tapi dari kesabaran ayah menghadapi kerasnya hidup tanpa keluh.
Ayah bukan hanya hadir di saat anaknya berhasil, tapi juga di setiap proses menuju keberhasilan. Ia menggandeng tangan kecil itu melewati jatuh bangun, sambil menanamkan nilai bahwa hidup bukan sekadar mencari kesenangan, tapi mencari keberkahan.
Dalam Islam, bimbingan seorang ayah adalah amanah. Ia menuntun anak menuju ketaatan, bukan sekadar kesuksesan dunia. Ia menanamkan iman sebelum pengetahuan, adab sebelum ilmu.
Dan di tengah kesibukannya, seorang ayah sejati tahu bahwa kebersamaan adalah bahasa cinta yang paling nyata. Duduk bersisian selepas Maghrib, berbagi cerita di meja makan, atau sekadar menepuk bahu anak sambil berkata, “Ayah bangga padamu.” — itulah bimbingan yang menguatkan jiwa.
Dalam diri Rasulullah ï·º, tergambar sempurna sosok ayah yang lembut dan membimbing. Beliau menyapa anak dan cucunya dengan kasih, memangku mereka, bahkan memperpanjang sujudnya ketika Hasan dan Husain menaiki punggungnya.
Dari beliau kita belajar bahwa ayah bukan sekadar pelindung, tapi juga pelipur; bukan hanya mengajarkan, tapi juga membersamai.
Di Hari Ayah ini, mungkin tak ada kado paling indah bagi seorang ayah selain ucapan tulus: “Terima kasih, Ayah, telah menjadi pemimpin yang menuntun kami dengan cinta.”
Sebab di balik segala kelelahan dan diamnya, ada cinta yang tak pernah habis — cinta seorang ayah yang menjadi jalan menuju ridha Allah.
Oleh Edy Santoso
Skum DPD PKS Trenggalek

